Komoditas ternak domba, khususnya domba garut menjadi tumpuan ekonomi masyarakat Jawa Barat. Lebih dari 50 persen ternak domba di Jawa Barat berperan sebagai tabungan dan sumber usaha masyarakat. Oleh karena itu, diperlukan industri pembibitan domba terpadu yang dapat diandalkan.

Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ir. Koesmayadi TP Kepala Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat di hadapan para peserta dan tamu undangan Roundtable Discussion “Konservasi dan Pengembangan Sumberdaya Genetik Domba Garut”. Acara ini berlangsung di kampus Fakultas Peternakan (Fapet) Unpad Jatinangor, Rabu (27/4), kerjasama antara Fapet Unpad dengan Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat dan Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI).

Dalam kesempatan tersebut, Koesmayadi mengungkapkan bahwa jumlah populasi ternak domba garut sebesar 590 ribu atau 9 persen dari total populasi ternak domba. Tentunya harus dikombinasikan berbagai kelebihan yang terdapat pada domba garut dan ternak domba biasa. “Semua potensi ini belum termanfaatkan dengan baik di kalangan peternak. Hal tersebut ditandai oleh permintaan pasar yang tidak didukung oleh supply yang memadai,” ungkapnya.

Selain itu, ia juga menjelaskan berbagai permasalahan yang dihadapi oleh para peternak seperti menurunnya mutu ternak domba akibat in breeding serta penyakit parasit darah, tata niaga pemasaran yang tidak jelas, dan kurangnya manajemen pemeliharaan yang baik.

Acara sesi pertama yang dimoderatori oleh Dr. Rachmat Setiadi ini juga menghadirkan pembicara Dr. Denie Heriyadi (Fakultas Peternakan Universitas Padjajaran) dan Dr. M. Yamin (Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor) yang membahas kebijakan pengembangan, karakteristik dan deskripsi, sistem produksi dan pengembangan ternak domba. Kemudian, bertindak sebagai pembicara pada sesi kedua diantaranya adalah Ir. Bambang Setiadi, MS (Puslitbang Peternakan) serta Ir. Yudi Guntara Noor (HPDKI Jawa Barat) dengan moderator Drh. Dwi Cipto Budinuryanto, MS (Fakultas Peternakan Universitas Padjadjaran).

Dr. Denie Heriyadi menyatakan bahwa selain mempunyai potensi ekonomi yang baik, domba garut juga harus dilindungi sebagai kekayaan genetik ternak bangsa Indonesia. “Domba garut merupakan domba asli Jawa Barat yang berasal dari wilayah Kabupaten Garut seperti Cibuluh, Cikandang, Cikeris, Cikajang, dan Wanaraja,” kata Denie.

Ia menambahkan bahwa sejak awal abad 18, domba garut ini telah menjadi kebanggan masyarakat sekitar, khususnya masyarakat kecamatan Cikajang dan Wanaraja. “Perlindungan kekayaan genetik domba garut masih dalam proses pengajuan SNI 7532:2009 dan ICS: 65.020.30,” jelasnya

Pada kesempatan yang sama, Dr. M. Yamin menyampaikan bahwa pemeliharaan ternak domba yang efektif dan efisien diperlukan sarana, proses produksi, pelestarian dan pengawasan yang terangkum dalam penerapan Good Farming Practice (GFP). Dijelaskan pula agar manajemen reproduksi meliputi optimalisasi potensi frekuensi beranak serta pemberian pakan berkualitas.

Dekan Fapet Unpad, Dr. Iwan Setiawan berharap acara ini bisa memberikan sebuah rumusan bagi semua pihak, agar mudah diaplikasikan dan dapat bermanfaat bagi masyarakat.pada umumnya. “Untuk mendukung hal tersebut, pusat informasi domba garut atau sistem informasi domba garut akan launching tanggal 4 November 2011. Semoga dapat memberikan sumbangsih terhadap kemajuan di bidang peternakan,” paparnya. (art)*

 

Sumber: http://www.unpad.ac.id/archives/40800

 

Tambah Komentar

Kode keamanan
Perbarui