Auto Translation
English Arabic Chinese (Simplified) Danish Dutch Finnish French German Hindi Italian Japanese Korean Portuguese Russian Spanish Swedish Indonesian Hungarian Thai Turkish
Saung Domba Update
Produk Saung Domba


Saung Domba on Media
Partner Sponsor
Beranie Gagal! Motivate Yourself!
Games Peternakan Domba
Kirim Pesan
Daftarkan Email Anda
Silahkan masukan Nama & Email Anda untuk mendapatkan info terbaru dari Saung Domba
Nama:
Email:
Saung Domba Online

(Stok & Harga Domba)


(Saung Domba & Info Domba)

Info Marketing & Produk :
021 786 3834
021 9425 0738
Harga Bibit Domba :
0821 1306 7334
info@saungdomba.com

Hari kerja : Senin - Sabtu
Jam kerja : 08.30 - 17.00 WIB

Saung Domba @ Android

Follow Us @ Twitter
Jemput Rezeki Anda!
Komentar Terakhir
  • It is the best time to make some plans for the fut... Lanjut...
    26.11.14 05:40
    Oleh : Norberto
  • dear Kang Doddy mohon info business plan domba gar... Lanjut...
    24.11.14 10:09
    Oleh : budi prasetyo
  • Lalu bagaimana dengan Saung Domba sendiri. Apakah ... Lanjut...
    23.11.14 21:49
    Oleh : Johan
  • We're a group of volunteers and starting a new sch... Lanjut...
    21.11.14 06:32
    Oleh : Denny
  • If you would like to improve your knowledge just k... Lanjut...
    21.11.14 05:27
    Oleh : Darla
We have 19 guests online
mod_vvisit_counterHari ini283
mod_vvisit_counterKemarin1101
mod_vvisit_counterMinggu ini1384
mod_vvisit_counterMinggu lalu6623
mod_vvisit_counterBulan ini22468
mod_vvisit_counterBulan lalu27845
mod_vvisit_counterTotal visit921789

26 November 2014
Saung Domba International

Seringkali masih banyak orang yang keliru ketika membedakan antara domba dan kambing. Uniknya lagi adalah lebih dikenal kelezatan sate kambing dibandingkan sate domba.

Apakah betul domba dan kambing itu sama? Atau keduanya memang jenis hewan ternak yang berbeda? Pada dasarnya domba dan kambing merupakan jenis hewan ternak pemakan rumput yang tergolong ruminansia kecil, keduanya pun populasinya hampir tersebar merata dan ada di seluruh dunia. Namun bila kita melihat visual fisiknya dengan cermat maka domba berbeda dengan kambing. Postur tubuh domba cenderung lebih bulat dibandingkan dengan kambing yang ramping.


Daun telinga kambing panjang dan terkulai. Bentuk bulu domba pun lebih ikal dan keriting sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bulu wool sedangkan lain halnya dengan kambing yang cenderung lurus.

Hewan ternak domba yang ada sekarang diduga merupakan hasil dometikasi manusia dari 3 jenis domba liar: Domba Mouflon dari Eropa Selatan dan Asia Kecil, Domba Argali dari Asia Tenggara serta Urial dari Asia. Domba-domba ini awalnya diburu secara liar sampai akhirnya diternakkan oleh manusia. Dibandingkan dengan sapi, babi, kuda dan kerbau sebagai sesama hewan ruminansia, hewan ternak domba lebih dahulu memiliki nilai komersial sejak abad 7000 SM. Bahkan di Indonesia keberadaan hewan ternak domba dapat dilihat pada relief Circa 800 SM pada Candi Borobudur. Olehkarenanya tidaklah heran bila jumlah populasi domba adalah jauh lebih banyak dibandingkan dengan kambing didunia. Data Food Agricultural Organization (FAO) tahun 2002, jumlah populasi domba dunia kurang lebih 1.034 milyar ekor sedangkan kambing hanya sekitar 743 juta. Populasi terbesar domba dan kambing dunia adalah di negara Tirai Bambu Cina, di mana negara kedua terbesar adalah Australia untuk domba dan India untuk kambing.

Sebagai bagian dari sektor usaha peternakan nasional, prosentase kebutuhan daging domba dan kambing masyarakat Indonesia adalah masih jauh di bawah sub sektor usaha peternakan lainnya seperti ayam/ unggas (56%), sapi (23%) serta babi (13%). Menurut data Ditjen. Peternakan –Deptan RI tahun 2005, konsumsi daging domba dan kambing di masyarakat memang masih sangat rendah yaitu hanya sekitar 5%. Namun bila melihat potensi kebutuhan daging hewan ternak ini yang pada tiap tahunnya kurang lebih sekitar 5,6 juta ekor untuk kebutuhan ibadah kurban saja, dan belum termasuk kebutuhan pasokan untuk aqiqah, industri restoran sampai dengan warung sate kaki lima yang membutuhkan 2 – 3 ekor tiap harinya, pertumbuhan populasi domba dan kambing adalah belum sebanding dengan angka permintaan yang terus meningkat. Potensi ini belum dihitung kebutuhan pasar di kawasan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Singapura, serta kawasan Timur Tengah yang tiap tahunnya membutuhkan kurang lebih 9,3 juta ekor domba. Di mana kebutuhan pasokan daging domba untuk kawasan Timur Tengah sampai saat ini masih dipenuhi oleh Australia dan Selandia Baru. Miris memang, di mana Indonesia sebagai negara dengan jumlah populasi masyarakat muslim terbesar di dunia sebenarnya lebih memiliki peluang untuk itu.

Pertumbuhan populasi domba dan kambing di Indonesia adalah relatif kecil sedangkan permintaan terus meningkat seiring jumlah penduduk dan perbaikan pendapatan kesejahteraan masyarakat. Bukan mustahil suatu saat akan terjadi kelangkaan produksi daging domba dan kambing sehingga pelaksanaan ibadah kurban akan mengimpor dari Australia ataupun Selandia Baru. Di Indonesia, keberadaan populasi domba dan kambing hampir tersebar dengan merata di seluruh wilayah. Namun sayangnya pemeliharaan ternak domba dan kambing di negeri ini sebagian besar masih dalam skala kecil dan tradisional. Berbeda dengan Australia, pola peternakan intensif dengan dukungan teknologi telah menjadikan negara tersebut dapat menghasilkan produksi domba skala besar dan berkualitas. Bayangkan saja, total ekspor daging domba Australia ke negara Saudi Arabia pada tahun 2006 adalah setara dengan 3,6 juta ekor.

Populasi hewan ternak domba dan kambing terbesar pada akhir tahun 2006 ada di wilayah provinsi Jawa Barat yaitu kurang lebih 3,5 juta ekor atau sekitar 49% dari jumlah populasi nasional. Di provinsi ini bahkan terdapat jenis hewan ternak ruminansia kecil yang merupakan kekayaan plasma nutfah Indonesia serta menjadi ciri khas provinsi yang dikenal dengan julukan bumi parahyangan tersebut. Domba Garut, Ovies Aries, domba ini adalah hasil persilangan dari 3 rumpun bangsa domba: Merino -Australia, Kaapstad dari Afrika dan Jawa Ekor Gemuk di Indonesia. Domba Jawa Ekor Gemuk sudah ada sebelumnya sejak lama sebagai jenis domba lokal, Domba Merino dibawa oleh pedagang Belanda ke Indonesia sedangkan Domba Kaapstad didatangkan para pedagang Arab ke tanah Jawa sekitar abad ke-19.

Domba Garut adalah jenis domba tropis bersifat profilik yaitu dapat beranak lebih dari 2 (dua) ekor dalam 1 siklus kelahiran. Di mana dalam periode 1 tahun, Domba Garut dapat mengalami 2 siklus kelahiran. Domba ini memiliki berat badan rata-rata di atas domba lokal Indonesia lainnya. Domba jantan dapat memiliki berat sekitar 60 – 80 kg bahkan ada yang dapat mencapai lebih dari 100 kg. Sedangkan domba betina memiliki berat antara 30 – 50 kg. Ciri fisik Domba Garut jantan yaitu bertanduk, berleher besar dan kuat, dengan corak warna putih, hitam, cokelat atau campuran ketiganya. Ciri domba betina adalah dominan tidak bertanduk, kalaupun bertanduk namun kecil dengan corak warna yang serupa domba jantan. Domba Garut merupakan plasma nutfah terlangka di dunia karena postur hewan ternak ini nyaris menyerupai bison di USA. Populasi Domba Garut terbesar di Indonesia tentunya ada di wilayah provinsi Jawa Barat dengan lokasi daerah penyebaran antara lain: Garut, Majalengka, Kuningan, Cianjur, Sukabumi, Tasikmalaya, Bandung, Sumedang, Indramayu dan Purwakarta. Mungkin hampir sebagian orang lebih mengenal hewan ternak Domba Garut identik dengan domba aduan yang berlaga di arena adu ketangkasan.

Domba Garut adalah hewan ternak eksotis. Memanglah betul bila sampai saat ini di kalangan masyarakat provinsi Jawa Barat masih menggemari adu ketangkasan domba, akan tetapi perlu untuk diluruskan bahwa arena adu ketangkasan yang ada sekarang tidak memperbolehkan pertarungan 2 ekor domba jantan sampai titik darah penghabisan. Telah dilakukan perubahan peraturan oleh organisasi Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia (HPDKI) yang saat ini dipimpin oleh Drs. H.A.M Sampurna, MM. selaku ketua umum dan Drs. H. Uu Rukmana selaku ketua wilayah provinsi Jawa Barat. Arena adu ketangkasan saat ini lebih menjadi arena seni
dan budaya yaitu tempat bertemunya silaturahmi antar peternak, penghobi, show room, transaksi bibit domba berkualitas serta objek wisata.

Beberapa nama seperti kang Ibing, dalang Asep Sunarya merupakan nama yang cukup dikenal sebagai penghobi dan pemilik Domba Garut berkualitas. Hobi memelihara ternak Domba Garut dijamin tidak akan kalah kepuasannya dengan memelihara jenis hewan lainnya seperti kucing, ikan dan sebagainya. Suatu kepuasan ketika tanduk Domba Garut jantan dapat terbentuk dan tumbuh maksimal ataupun dengan keindahan corak serta warna bulu yang dihasilkan. Sepatu boot, bertopi koboi, pakaian hitam adalah ciri penghobi ketika datang ke arena seni dan budaya adu ketangkasan. Dan jangan salah, harga 1 ekor ternak Domba Garut jantan berkualitas dikalangan penghobi dapat bernilai di atas 10 juta rupiah bahkan ada yang ratusan juta rupiah.

Namun yang patut dikhawatirkan pada kondisi saat ini adalah populasi Domba Garut berkualitas yang kian menyusut dan dapat terancam punah di mana bertolak belakang dengan sifat profilik yang dimilikinya. Kurangnya perhatian serius terhadap sektor usaha pembibitan menjadikan populasi Domba Garut unggulan agak sukar ditemukan. Dan ini pula yang menjadikan hewan ternak Domba Garut untuk kebutuhan ibadah kurban kian mahal harganya. Seperti yang diutarakan oleh Drh. Abdul Jabbar Zulkifli selaku Sekretaris Jenderal Himpunan Peternak Domba Kambing Indonesia HPDKI) dalam diskusinya dengan penulis belum lama ini.

Kondisi tersebut tentunya sangat disayangkan, terlebih bila kita tahu potensi ekonomis hewan ternak Domba Garut yang tidak hanya identik dengan domba aduan, kualitas daging Domba Garut juga memiliki nilai gizi yang cukup baik dibandingkan dengan kambing untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat. Bahkan tidak hanya dimanfaatkan dagingnya saja, kulit Domba Garut dapat dijadikan bahan baku untuk pembuatan jaket berkualitas. Data tahun 2005 yang didapat dari website kabupaten Garut, industri jaket berbahan baku kulit Domba Garut dapat menyerap 2.656 tenaga kerja dengan nilai ekspor Rp. 84,7 milyar ke berbagai negara tujuan seperti Singapura, Malaysia, Taiwan dan Australia. Kotoran ternak Domba Garut pun dapat memberikan keuntungan dan nilai manfaat bila diolah dengan baik yaitu sebagai bahan baku pembuatan pupuk organik.

Dari hasil penelitian yang dilakukan, kebutuhan unsur hara pada tanaman dapat terpenuhi dengan pemberian pupuk organik hasil fermentasi berbahan baku kotoran domba yang sangat bermanfaat untuk meningkatkan hasil produksi pertanian. Seorang peneliti utama lulusan Jepang dari Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika – Bogor, Dr. Ir. Mesak Tombe, saat ini berhasil menemukan teknologi yang sudah mendapatkan hak paten untuk meningkatkan kualitas pupuk organik yang dihasilkan dari kotoran ternak, teknologi tersebut dinamakan Bio Triba. Dikemas dalam bentuk formula cair dengan kandungan mikroorganisme B. Pantotkenticus strain J2 dan T. Lactae strain TB1.

Teknologi yang ditemukan Dr. Ir. Mesak Tombe sangat membantu dalam proses pematangan kotoran ternak menjadi pupuk organik antara periode 1 – 2 minggu. Tidak hanya itu, teknologi ini juga dapat diaplikasikan pada pengolahan limbah organik pasar dan rumah tangga. Kelebihan lain teknologi ini adalah dapat berperan pula sebagai bio fungisida untuk pengendalian penyakit pada tanaman. Adalah tepat bila sektor usaha peternakan dan pertanian memang harus saling bersinergi. Terlebih lagi saat ini petani dalam posisi sulit diantara kenaikan biaya produksi sebagai akibat harga pupuk yang terus melambung, di sisi lain petani tidak bisa seenaknya menaikkan harga jual sehingga perolehan pendapatan semakin menipis. Terbesit gagasan pula untuk mengkombinasikan ternak Domba Garut dengan sektor perikanan air tawar. Design kandang ternak domba dibuat panggung di atas kolam ikan.

Secara segmentasi pasar lokal, Domba Garut memiliki potensi pasar yang multi user. Seperti yang disampaikan oleh Agus Ramada selaku Direktur Utama Eka Agro Rama sebagai perusahaan agri bisnis yang concern dalam usaha ternak Domba Garut dan pertanian organik. Dan ini yang menjadikan hewan ternak Domba Garut layak untuk dikembangkan sebagai pilihan dalam sektor usaha peternakan. Potensi pasar terbesar pertama adalah hewan ternak Domba Garut untuk memenuhi kebutuhan tahunan ibadah kurban. Kemudian menyusul kebutuhan konsumsi daging harian baik itu rumah tangga, restoran dan warung sate. Selanjutnya adalah kebutuhan aqiqah, dan terakhir adalah penghobi yang selalu mencari bibit Domba Garut jantan unggulan.

Penjelasan Dr. Ismeth Inounu, peneliti utama bidang pemuliaan dan genetika dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan (Puslitbangnak – Deptan RI), yaitu pada kunjungannya ke lokasi peternakan Domba Garut Eka Agro Rama, kabupaten Bandung, provinsi Jawa Barat bulan April lalu, pemerintah saat ini memberikan perhatian serius untuk pengembangan sektor usaha pembibitan dan perbanyakan hewan ternak domba serta kambing antara lain Domba Garut.

Tidak hanya program pemuliaan galur murni untuk mengembalikan kualitas terbaik hewan ternak Domba Garut, akan tetapi program pengembangan domba komposit untuk dapat menghasilkan keturunan ataupun bibitunggulan baru juga sedang giat dilakukan. Berbagaimacam penemuan teknologi terkait reproduksi ternak domba terus dikembangkan untuk mempermudah upaya produksi dan perbanyakan domba berkualitas, sebagai contoh teknologi laserpuntur dan suntik hormonal yang akan sangat bermanfaat untuk sinkronisasi birahi dan perkawinan massal. Keberhasilan perkawinan domba lokal Sumatera dengan domba St. Croix dari Virgins Islands dan domba Barbados, kemudian Domba Garut dengan domba St. Croix serta Domba Moulton dari Prancis, adalah program pengembangan domba komposit yang berhasil dilakukan oleh Puslitbangnak – Deptan RI dari aplikasi penemuan teknologi tersebut.

Tidak hanya sebatas itu, di lokasi peternakan Eka Agro Rama juga telah berhasil program pengembangan domba komposit berupa perkawinan Domba Garut betina dengan Domba Suffolk pejantan dari Inggris, kemudian Domba Garut betina dengan pejantan Merino – Australia yang telah menghasilkan kualitas anakan dengan harapan akan jauh lebih baik sehingga dapat memenuhi kebutuhan konsumsi daging. Adalah Alam Yanuardi selaku Direktur Operasional yang dengan tangan dinginnya berhasil menjalankan program pengembangan domba komposit tersebut.

Dalam pengembangan usaha ternak Domba Garut maka Eka Agro Rama tidaklah bergerak seorang diri. Terlebih dengan potensi menembus peluang pasar lokal dan dunia yang masih cukup besar. Dirintis pula upaya kerjasama mulai dari sektor hulu sampai dengan sektor hilir untuk dapat mencapai tujuan usaha ternak yang diinginkan. Salah satu rekanan kerjasama yang senantiasa membantu Eka Agro Rama dalam pengembangan usahanya antara lain adalah Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika. Eksistensi Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika patut diacungi jempol dalam pengembangan sub sektor usaha peternakan domba kambing di Indonesia. Program Tebar Hewan Kurban dan 1000 Aqiqah yang sedang dijalankan oleh Kampoeng Ternak tidak hanya bertujuan untuk memajukan usaha ternak domba dan kambing di Indonesia, akan tetapi bertujuan pula untuk membantu masyarakat yang kurang mampu dalam kebutuhan konsumsi daging domba. Seperti yang dijelaskan Purnomo, SPt selaku Direktur Kampoeng Ternak – Dompet Dhua’fa Republika. Eka Agro Rama sendiri saat ini lebih terfokus bergerak dalam sektor usaha pembibitan dan perbanyakan Domba Garut. Penyediaan Domba Garut berkualitas untuk kebutuhan kurban, aqiqah, restoran sampai dengan warung sate kaki lima adalah menjadi impian Kami, ucap Agus Ramada. Salam Peternak Domba Sehat!

Sumber : milis agromania

 



Jika Anda suka, bagikan artikel ini ke teman Anda. Terima kasih..

Tambah Komentar

Kode keamanan
Perbarui